LAPORAN OBSERVASI UMKM
LAPORAN OBSERVASI UMKM
KERIPIK TEMPE CAHYA RASA
(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Kewirausahaan)
Dosen Pengampu : Dr., Yoyo Sunaryo, N., Ir., M.P.
Disusun oleh:
KELOMPOK 6
Nama Anggota :
Erika Agustina
Nadilla Dwi Agustin
Ratih Meliani
Tania Meilani
Wika Widyantika
Akuntansi 2A
PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KUNINGAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan Laporan Observasi UMKM Keripik Tempe Cahya Rasa. Laporan ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kewirausahaan serta mengetahui lebih lanjut tentang sejarah, pengorbanan, dan manajemen usaha yang dilakukan pada suatu UMKM.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dengan kerendahan hati, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya yang tertarik dengan dunia usaha.
Kuningan, 21 April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. PROFIL USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH 3
B. SEJARAH UMKM KERIPIK TEMPE CAHYA RASA 3
C. KAJIAN PUSTAKA 4
1. Usaha Kecil 4
2. Usaha Mikro 5
3. Usaha Menengah 7
4. Manajemen Untuk Mengembangkan Suatu Usaha 9
D. USAHA MIKRO KERIPIK TEMPE CAHYA RASA 16
1. Manajemen Produksi 16
2. Manajemen Pemasaran 18
3. Manajemen Sumber Daya Manusia 20
4. Manajemen Keuangan 21
BAB II PENUTUP 22
A. Kesimpulan 22
B. Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24
LAMPIRAN 25
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kewirausahaan (bahasa Inggris: entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Usaha seharusnya dirintis dari usaha kecil yang lama-lama akan menjadi usaha besar. Dalam pengembangan kewirausahaan memang sangat memerlukan ketelatenan, kesabaran, serta usaha yang keras demi tercapainya kesuksesan.
Usaha mikro kecil menengah itulah salah satu contoh usaha yang mungkin sekarang ini banyak kita temukan. Mereka menjalankan usahanya dengan modal yang seminimal mungkin dan dapat hasil yang lumayan.
Salah satu contoh usaha mikro adalah usaha keripik tempe Cahya Rasa yang didirikan oleh Bapak Dedi, itu dapat di kategorikan sebagai usaha kecil menengah. Beliau telah mengelola modal untuk usaha tersebut dengan sebaik mungkin. Pendapatan yang telah didapatkannya selama ini sudah cukup lumayan.
Meman sekarang ini kewirausaan sangatlah penting dan juga dikategorikan sebagai kebutuhan. Usaha yang maju akan menghasilkan keuntungan yang lebih banyak. Selain itu juga dapat memberi peluang yang luas bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan.
Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah serta profil usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa ?
Apa metode pemasaran yang digunakan oleh usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa?
Bagaimana cara mengembangkan usaha mikro keripik tempe Cahya Rasa tersebut?
Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana sejarah serta profil usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa
Untuk mengetahui dan memahami metode pemasaran produk yang digunakan oleh usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa
Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan usaha mikro keripik tempe Cahaya Rasa
BAB II
PEMBAHASAN
PROFIL USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
Nama UMKM : Keripik Tempe Cahya Rasa
Pemilik UMKM : Dedi
Alamat : Dusun Puhun RT. 011 / RW. 003, Desa Pagundan Kec. Lebakwangi, Kab. Kuningan 45574
Nomor Telepon : 0895-3748-98958
Bidang Usaha : Makanan
Tahun Berdiri : 1998
SEJARAH UMKM KERIPIK TEMPE CAHYA RASA
Sebelum mendirikan usaha keripik tempe, bapak Dedi bekerja sebagai buruh dipabrik keripik tempe di Bandung. Karena bosan menjadi buruh, jauh dari keluarga, Bapak Dedi memutuskan untuk berhenti bekerja di Bandung lalu terpikirkan ide untuk membuka usaha keripik tempe kecil-kecilan di kota asalnya yaitu Kuningan Jawa Barat. Atas pengalaman serta ilmu yang didapatkan mengenai usaha dibidang keripik tempe Bapak Dedi memberenaikan diri untuk mendirikan usaha keripik tempe pada tahun 1998 yang dinamai Keripik Tempe Cahya Rasa.
Nama Cahya Rasa diambil dari nama putri bungsu dari Bapak Dedi yang bernama Restu Cahya. Usaha keripik tempe Cahya Rasa diproduksi oleh Bapak Dedi bersama istrinya Ibu Isah, lalu hasil produksi tersebut diperjualbelikan kepada konsumen di pasar menggunakan gerobak dorong dengan modal awal sebesar Rp. 200.000,-
Secara bertahap usaha keripik itu mulai berkembang, keripik tempe Cahya Rasa ini telah memperoleh ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman untuk dikonsumsi dan menambah daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk membeli. Karena semakin berkembangnya usaha keripik tempe ini, Bapak Dedi sudah tidak berjualan menggunakan gerobak lagi di Pasar Ciputat Ciawigebang, tetapi mulai menitipkan produknya ke pasar-pasar tradisional yang berada di daerah Darma, Cikijing, Talaga, Ciawigebang, Pabuaran, dan Ciledung.
Dari hasil usaha keripik tempe tersebut, Bapak Dedi mulai mempekerjakan seorang karyawan untuk membantu pengemasan produk, sedangkan proses produksi masih tetap oleh Bapak Dedi dibantu istri dan anaknya. Selain itu Bapak Dedi dapat membeli mobil yang digunakan sebagai alat transportasi untuk mengantarkan produknya.
KAJIAN PUSTAKA
Usaha Kecil
Pengertian Usaha Kecil
Usaha Kecil adalah usaha yang berskala kecil, memiliki modal kecil dan cakupan pasar yang kecil pula. Keterbatasan modal dan cakupan pasar merupakan hal yang lumrah karena dalam perjalanan untuk menjadi besar butuh proses dan waktu.
Ciri-ciri usaha kecil
Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah.
Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah.
Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha.
Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha.
Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal.
Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning.
Usaha Mikro
Pengertian Usaha Mikro
Usaha Mikro adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil dan bersifat tradisional dan informal dalam arti belum terdaftar, belum tercatat, dan belum berbadan hukum. Hasil penjualan tahunan bisnis tersebut paling banyak Rp 100.000.000,00 dan milik Warga Negara Indonesia.
Menurut keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003, Usaha Mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) per tahun.
Berdasarkan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menyebutkan: Usaha mikro Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Ciri-ciri Usaha Mikro
Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti;
Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat;
Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.
Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai
Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah;
Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank;
Tujuan Usaha Mikro
Sedangkan menurut UU No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pasal 3 disebutkan bahwa usaha mikro dan kecil bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.
Contoh Usaha Mikro
Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya;
Industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan rotan, industri pandai besi pembuat alat-alat;
Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar dll;
Peternakan ayam, itik dan perikanan;
Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).
Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
Usaha Menengah
Pengertian Usaha Menengah
Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan (Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bab 1 pasal 1). Dikatakan sebagai usaha menengah jika keuntungan bersih badan usaha itu tidak lebih dari Rp. 500.000.000,- per bulan. Usaha menengah juga berfungsi sebagai sarana untuk memeratakan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Kewirausahaan dalam menjalankan industri menengah adalah modalnya cukup besar, peralatan dan sarana tempat sudah bagus dan pembagian kerja sudah jelas, tenaga kerja/karyawan berjumlah 20 sampai 100 orang. UKM (Usaha Kecil Menengah) adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Jumlah UKM hingga 2011 mencapai sekitar 52 juta. UKM di Indonesia sangat penting bagi ekonomi karena menyumbang 60% dari PDB dan menampung 97% tenaga kerja.
Ciri-ciri Usaha Menengah
Berikut ini adalah beberapa ciri usaha menengah yang membedakannya dengan jenis usaha lain:
Memiliki manajemen usaha yang lebih baik dan lebih modern. Adanya pembagian tugas yang jelas antara bagian produksi, bagian pemasaran, bagian keuangan, dsb.
Pernah melakukan administrasi keuangan dengan cara menerapkan sistem akuntansi secara teratur. Hal ini akan mempermudah pihak tertentu dalam melakukan pemeriksaan dan juga penilaian.
Memberikan jaminan sosial kepada para pekerja, seperti jamsostek, jaminan kesehatan, dsb.
Telah mengurus segala persyaratan legalitas, seperti izin tetangga, izin usaha, NPWP, izin tempat, dan lain sebagainya.
Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500 juta sampai dengan paling banyak Rp 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2,5 miliar sampai dengan paling banyak Rp 50 miliar
Contoh Usaha Menengah
Usaha perkebunan, perternakan, pertanian, kehutanan skala menengah.
Usaha Perdagangan (Grosir) Termasuk Expor dan Impor
Usaha Dealer Mobil
Usaha Jasa Membuat jasa Alat Transportasi
Usaha Industri Makanan Dan Minuman
Usaha perdagangan skala besar yang melibatkan aktivitas atau kegiatan ekspor-impor.
Usaha ekspedisi muatan kapal laut, garmen, serta juga jasa transportasi seperti bus dengan jalur antar propinsi.
Usaha industri makanan, minuman, elektronik, serta juga logam.
Usaha pertambangan.
Manajemen Untuk Mengembangkan Suatu Usaha
Manajemen Produksi
Pengertian Manajemen Produksi
Pengertian Manajemen Produksi adalah sebagai penataan proses pengubahan bahan mentah menjadi produk atau jasa yang diinginkan sehingga memiliki nilai jual.
Produksi yang diambil dari bahan mentah langsung kemudian diekstrak menjadi produk yang diinginkan. Misalnya ekstraksi minyak untuk dibuat menjadi berbagai macam produk.
Produk yang didapatkan dengan cara memodifikasi bahan baik secara kimiawi atau parameter mekanis tanpa mengubah atribut fisiknya. Misalnya dilakukan dengan memanaskan bahan baku di suhu yang tinggi.
Fungsi Manajemen Produksi
Seperti yang kita ketahui pada pengertian manajemen produksi, mereka tidak hanya melakukan proses produksi, tapi juga melakukan berbagai hal lainnya. Menurut Sofian Assauri (2004: 22), ada empat fungsi terpenting pada manajemen produksi, diantaranya:
Perencanaan
Ini adalah keterkaitan dan pengorganisasian kegiatan produksi yang akan dilakukan dengan dasar waktu atau periode tertentu.
Proses Pengolahan
Ini adalah metode atau teknik yang digunakan untuk mengolah masukan (input).
Jasa Penunjang
Sarana yang diperlukan untuk penetapan dan metode yang digunakan agar proses pengolahan bisa dilakukan secara efektif dan efisien.
Pengendalian/ Pengawasan
Ini merupakan fungsi untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perencanaan, dengan begitu maksud dan tujuan dalam menggunakan dan pengolahan masukan (input) dapat dilaksanakan.
Ruang Lingkup Manajemen Produksi
Dilihat dari cara mengambil kebijakan utama dan keputusan, ada tiga kategori di dalam ruang lingkup manajemen produksi:
Keputusan/ Kebijakan Mengenai Desain
Kebijakan/ Keputusan Mengenai Transformasi
Keputusan/ Kebijakan Mengenai Perbaikan
Aspek-Aspek Manajemen Produksi
Untuk mendapatkan hasil produksi yang sesuai harapan, perlu dilakukan beberapa tahapan penting dalam proses produksi. Berikut ini tahapan dan aspek di dalam Manajemen Produksi:
Perencanaan Produksi
Pengendalian Produksi
Pengawasan Produksi
Faktor Pendukung Manajemen Produksi
Manajemen produksi yang telah berjalan dengan baik disuatu perusahaan dipengaruhi dua faktor yaitu:
Faktor pertama yaitu division of labour atau faktor pembagian tugas yang tepat.
Faktor kedua adalah dilakukannya revolusi industri.
Manajemen Pemasaran
Pengertian Manajemen Pemasaran
Menurut Dharmmesta dan Handoko, pengertian manajemen pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaannya, berkembang dan mendapatkan keuntungan dari kegiatan pertukaran. Jauh sebelum barang diproduksi, proses pemasaran tersebut sudah dilakukan dan tidak berakhir pada penjualan.
Konsep Manajemen Pemasaran
Ada 3 elemen penting yang termasuk konsep manajemen pemasaran yaitu:
Orientasi Pada Konsumen (Market Oriented)
Konsep pemasaran yang paling baik adalah dengan menjadikan konsumen sebagai prioritas utama.
Perencanaan Kegiatan Pemasaran
Pengaturan secara dinamis sebagai bentuk penyusunan berbagai kegiatan pemasaran secara menyeluruh.
Kepuasan Konsumen
Unsur paling penting di dalam pemasaran adalah kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen ini tidak hanya diukur dari kualitas produk saja, tapi juga dari bagaimana strategi pemasaran yang dilakukan.
Fungsi Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran memiliki beberapa fungsi berikut:
Fungsi Pertukaran
Di sini fungsi pertukaran pada manajemen pemasaran terbagi menjadi dua fungsi utama, yakni fungsi pembelian dan fungsi penjualan.
Fungsi Fisis
Fungsi fisis manajemen pemasaran terfokus pada kegunaan waktu, lokasi dan bentuk yang perlu dipertimbangkan pada suatu produk ketika suatu produk akan diangkut, diproses dan disimpan hingga sampai ketangan konsumen.
Fungsi Penyediaan Sarana
Manajemen pemasaran juga memiliki fungsi sebagai penyediaan sarana karena akan berkaitan dengan segala kegiatan yang mampu melancarkan operasional pemasaran.
Tujuan Manajemen Pemasaran
Secara umum ada 6 Tujuan Manajemen Pemasaran, diantaranya adalah:
Membangun Permintaan
Membangun Kepuasan Konsumen
Mendapatkan Market Share
Mendapatkan Keuntungan
Mendapatkan Pencitraan Sesuai Harapan
Menjaga Kelangsungan Usaha
Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengertian Manajemen Pemasaran
Manajemen sumber daya manusia, disingkat MSDM, adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan (goal) bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal.
Konsep Dasar Manajemen Sdm
Manajemen Sumber Daya Manusia atau biasa disingkat dengan MSDM memiliki konsep dasar yaitu menempatkan semua karyawan sebagai manusia. Artinya, karyawan bukan hanya sebagai mesin pendukung saja atau bukan yang penting perusahaan bayar kamun, maka kamu harus nurut ama perusahaan.
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Secara garis besar fungsi MSDM dibagi menjadi 2 yaitu :
Fungsi Manajerial
Planning atau Perencanaan
Organizing atau Pengorganisasian
Directing atau Pengarahan
Controlling atau Pengendalian
Fungsi Operasional
Pengadaan Tenaga Kerja / Karyawan
Pengembangan
Pengintegrasian
Pemeliharaan
Kompensasi
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Sasaran Manajemen SDM
Sasaran Perusahaan Atau Korporasi
Departemen SDM sengaja dibuat untuk membantu para pimpinan / manajer dalam mencapai tujuan perusahaan, seperti : perencanaan Sumber Daya Manusia, pelatihan, selesi, pengembangan, naik/turun jabatan, penilaian, dll.
Sasaran Fungsional
Setingkat lebih tinggi dari sasaran yang pertama, sasaran fungsional ini untuk mempertahankan kontribusi dari HRD pada level yang lebih cocok bagi kebutuhan perusahaan seperti pengangkatan pangkat, penempatan serta penilaian pegawai.
Sasaran Sosial
Sasaran sosial ini antara lain hubungan manajamen perusahaan dengan syarikat kerja, pemenuhan jika ada tuntutan hukum, keuntungan perusahaan, CSR, hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar, dll.
Sasaran Pribadi Karyawan
Selain itu, depertemen ini juga bisa membantu para karyawan untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi mereka, apabila memang dirasa karyawan tersebut sudah bekerja dengan baik di perusahaan. Misalkan mempermudah / membantu karyawan yang ingin melakukan kredit rumah/kendaraan.
Manajemen Keuangan
Pengertian Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah suatu kegiatan yang terdiri dari perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencaharian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan. Sedangkan secara sederhana, Pengertian Manajemen Keuangan adalah suatu proses dalam aktivitas keuangan perusahaan, dimulai dari cara memperoleh dana dan mempergunakannya. Yang mana penggunaannya harus tepat sasaran, efisien, dan efektif agar tujuan keuangan perusahaan dapat tercapai sesuai rencana.
Fungsi Manajemen Keuangan
Berikut beberapa fungsi manajemen keuangan yaitu sebagai berikut..
Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaran serta mengenai kegiatan-kegiatan yang lainnya dalam periode tertentu.
Penganggaran Keuangan, membuat detail pengeluaran dan pemasukan
Pengelolaan Keuangan, penggunaan dana perusahaan secara maksimal dengan berbagai cara
Pencaharian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang digunakan untuk operasional kegiatan perusahaan.
Penyimpanan Keuangan, yakni dengan mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana tersebut.
Pengendalian Keuangan, yakni dengan melakukan evaluasi dan perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan yang berlaku di perusahaan.
Pemeriksaan Keuangan, dengan melakukan audit internal mengenai keuangan perusahaan yang ada untuk tidak adanya penyimpangan.
Pelaporan Keuangan, adalah dengan menyediakan informasi tentang kondsi keuangan perusahaan dan tentunya sebagai bahan evaluasi.
Tujuan Manajemen Keuangan
Tujuan dari manajemen keuangan adalah untuk memaksimalkan akan nilai perusahaan. Sehingga jika suatu saat perusahaan tersebut dijual, maka harganya dapat ditetapkan dengan harga yang setinggi mungkin. Seorang manajer harus menekan arus peredaran uang agar terhindar dari tindakan yang tidak diinginkan.
Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan tidak hanya pada pencatatan akuntansi saja. Manajemen keuangan merupakan bvagian yang sangat penting dan tidak dapat dianggap sepele. Pada prakteknya manajemen keuangan meruakan aktivitas dan hadir untuk menyehatkan keuangan perusahaan atau organisasi. Maka dari itu membuat hal tersebut, mari kita melihat Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan sebagai berikut :
Consistency (Konsistensi)
Accountability (Akuntabilitas)
Transparancy (Transparansi
Viability (Kelangsungan Hidup)
Integrity (Integritas)
Stewardship (Pengelolaan)
Accounting Standards (Standar Akuntansi)
USAHA MIKRO KERIPIK TEMPE CAHYA RASA
Manajemen Produksi
Produk
Deskripsi Produk
Produk Keripik Tempe Cahya Rasa adalah keripik tempe yang renyah dan gurih yang terbuat dari tempe serta bumbu rempah-rempah lainnya. Keripik tempe Cahya Rasa ini dikemas dalam 3 ukuran yaitu : ukuran besar @ Rp. 46.000,- ukuran sedang @ Rp. 25.000,- dan ukuran kecil @ Rp. 2.000.-. Keripik tempe Cahya Rasa ini sangat aman untuk dikonsumsi karena telah mendapat izin dari BPOM.
Nilai/Manfaat Produk
Keripik tempe Cahya Rasa adalah makanan ringan yang dapat dijadikan sebagai camilan atau pun penambah lauk makanan dengan rasanya yang enak, gurih dan renyah.
Proses Produksi
Proses produksi di Keripik tempe Cahya Rasa sangat mementingkan kualitas, mulai dari pemilihan tempe yang bagus, racikan berbagai rempah-rempah, sampai bumbu-bumbu rahasia yang dibuat untuk menghasilkan cita rasa yang khas serta proses produksi yang memerhatikan kebersihan.
Kapasitas Produksi
Dalam satu hari kapasitas produksi di Keripik Tempe Cahya Rasa kurang lebih 700 bungkus yang terdiri dari 200 bungkus ukuran besar, 150 bungkus ukuran sedang, dan 350 bungkus ukuran kecil.
Bahan Baku dan Bahan Pembantu
Bahan baku untuk pembuatan keripik tempe Cahya Rasa per hari berupa tempe kurang lebih seharga Rp. 150.000,- tepung Rp. 75.000, bumbu-bumbu kurang lebih seharga Rp. 35.000,-, gas Rp. 20.000,-, dan minyak Rp. 52.000,-.
Tenaga Produksi (Tenaga Kerja Langsung)
Bapak Dedi mempekerjakan satu orang untuk membantu proses pembungkusan yang diberi upah per harinya Rp. 30.000,-
Kendala Dalam Proses Produksi
Kendala dalam proses produksi di Keripik tempe Cahya Rasa ini adalah apabila harga bahan baku yaitu tempe mengalami kenaikan. Ataupun harga minyak, gas, serta bahan pembantu lainnya mengalami kenaikan pula. Sehingga akan memberikan kesulitan kepada pengusaha Keripik tempe Cahya Rasa dalam menentukan keputusan apakah harus menaikan harga ataukah mengurangi kuantitas produk dalam tiap kemasan.
Kelemahan Produk Keripik Tempe Cahya Rasa
Keripik tempe Cahya Rasa ini dari dahulu sampai sekarang belum ada inovasi untuk membuat rasa yang unik dan berbeda, karena keripik tempe Cahya Rasa ini hanya menjual produk original saja.
Manajemen Pemasaran
Gambaran Umum Pasar (STP)
Segmen Pasar
Tempe merupakan makanan yang dikonsumsi oleh seluruh masyarakat di Indonesia khusunya di Kuningan. Begitupun Keripik Tempe Cahya Rasa ini yang dapat dikonsumsi oleh semua kalangan dan telah mendapat izin BPOM sehingga aman untuk dikonsumsi, dengan harga yang sangat terjangkau produk ini mempunyai segmen pasar mulai dari kaum menegah ke bawah maupun menengah ke atas.
Target (Targeting)
Keripik Tempe Cahya Rasa ditargetkan ke pasar pasar tradisional yang ada di Kuningan, Cirebon, dan Majalengka.
Posisi (Positioning)
Keunggulan dari produk Keripik Tempe Cahya Rasa ini adalah rasanya yang enak dan gurih serta harga produk yang sangat terjangkau mulai dari harga Rp. 2.000,-
Strategi Pemasaran Usaha dan Pesaing
Strategi Pemasaran Perusahaan dilakukan berdasarkan analisa 7P dengan alat analisis SWOT menurut Kottler yang terdiri atas:
Product (Produk)
Keripik Tempe Cahya Rasa adalah keripik tempe yang dibumbui dengan bawang putih, ketumbar serta bumbu lainnya yang digoreng dengan dilumuri lapisan tepung dengan cita rasa gurih dan renyah.
Price (Harga)
Harga Keripik Tempe Cahya Rasa cukup terjangkau dan sangat pas untuk semua kalangan. Untuk harga per 1 kg @ Rp. 46.000,- harga per 1,5 kg @ Rp. 25.000,- serta untuk kemasan keci 1 Pcs @ Rp. 2.000,-
Promotion (Promosi)
Strategi mengenai bagaimana produk Keripik Tempe Cahya Rasa dapat dikenal oleh konsumen yaitu melalui penjualan pribadi (personal selling) serta menitipkan produk ke pasar-pasar tradisional.
Place (Tempat)
Karena sistem penjualan dengan cara dititipkan ke pedagang-pedagang yang ada di pasar tradisional, serta konsumen yang dapat langsung membeli ke rumah yang dijadikan tempat produksi maka tempat untuk berjualan hanya di rumah dan pasar tradisional saja.
People (Orang)
Untuk meningkatkan produk yang dijual, Keripik Tempe Cahya Rasa mempekerjakan satu orang pekerja untuk membantu pengemasan.
Process (Proses)
Proses produksi dilakukan dirumah pribadi Bapak Dedi, sehingga konsumen yang membeli dipasar tidak dapat melihat secara langsung proses produksi.
Physical Evidence (Bukti Fisik)
Penampilan fisik dari produk menggunakan label Cahya Rasa untuk mempermudah konsumen untuk mengenal produk Keripik Tempe Cahya Rasa ini. Dikemas dengan plastik bening dan dibuat higienis.
Manajemen Sumber Daya Manusia
Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh UMKM Keripik tempe Cahya Rasa adalah orang yang tekun dan sabar dalam bekerja. Tenaga kerja yang membantu memproses pengemasan produk dengan upah per harinya adalah Rp 30.000,-.
Sedangkan untuk proses produksi dilakukan oleh pemilik usaha yaitu Bapak Dendi, beserta Istri. Sedangkan untuk proses distribusi produk ke pasar-pasar tradisional yang berada di Darma, Cikijing, Talaga, Ciawigebang, Pabuaran, dan Ciledung dilakukan oleh putranya.
Manajemen Keuangan
Sumber dana awal usaha Keripik tempe Cahya Rasa pada tahun 1998 berasal Rp 100.000,- modal sendiri. Berawal dari modal yang sedikit karena manajemen keuangan yang dilakukan baik, maka dapat mengembangkan usaha sampai berkembang tidak hanya di pasar Ciputat-Ciawigebang tetapi sampai keluar Kabupaten Kuningan.
Modal perhari untuk pembuatan keripik tempe Cahya Rasa per hari kurang lebih Rp. 332.000,- sedangkan omzet penjualan ketika ramai dapat menjual sekitar 500 sampai 1.000 bungkus Keripik Tempe Cahya Rasa dengan berbagai ukuran sedangkan ketika penjualan sepi hanya menjual sekitar 200 bungkus saja.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Salah satu contoh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah usaha Keripik Tempe Cahya Rasa yang didirikan oleh Bapak Dedi pada tahun 1998. Lokasi produksi Keripik Tempe Cahya Rasa ini berada di Dusun Puhun RT. 11/RW. 03 Desa Pagundan, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Awal ide untuk mendirikan usaha Keripik Tempe Cahya Rasa ini karena Bapak Dedi bosan menjadi pegawai disalah satu pabrik keripik tempe di Bandung, setelah mendapat banyak pengalaman lalu memilih keluar dari pekerjaannya dan mendirikan usaha sendiri.
Produk yang dijual oleh UMKM Keripik Tempe Cahya Rasa tidak hanya di pasar tradisional yang ada di Kuningan saja, tetapi sudah ke daerah Cikijing, Talaga, Pabuaran, dan Ciledung. Keunggulan produk Keripik Tempe Cahya Rasa ini adalah mempunyai izin dari BPOM serta terkenal dengan rasanya yang enak, gurih, dan renyah. Produk ini dapat dibeli oleh semua kalangan dengan rasa yang enak dan harga yang terjangkau baik oleh kalangan menengah atas, maupun kalangan menengah kebawah.
Berawal dari modal yang sedikit karena manajemen keuangan atau pengelolaan modal yang baik oleh Bapak Dedi, maka dapat mengembangkan usaha sampai berkembang tidak hanya di pasar Ciputat-Ciawigebang tetapi sampai keluar Kabupaten Kuningan. Sehingga Pendapatan yang telah didapatkan sampai saat ini cukup lumayan dan juga dapat memberi peluang yang luas bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan.
Saran
Keripik Tempe Cahya Rasa sudah enak dengan rasa gurih dan renyahnya dengan rasa yang original. Namun alangkah lebih baik dan menarik apabila ditambahkan dengan beberapa inovasi rasa lain, seperti rasa pedas, pedas manis, balado, dan lain-lain.
Karena penjualan hanya dirumah produksi dan diantar ke pasar-pasar tradisional, maka konsumen yang akan membeli produk harus pergi ke rumah produksi ataupun ke pasar terlebih dahulu. Karena pemasaran yang dilakukan masih penjualan secara langsung. Mungkin akan lebih baik apabila UMKM Keripik Tempe Cahya Rasa dapat memasarkan produknya di media sosial atau dijual secara online untuk memperluas pangsa pasar dan menarik konsumen lebih banyak lagi demi meningkatkan produk dan keuntungan yang didapatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmmesta, B.S. & Handoko, H.(1982), Manajemen Pemasaran: Analisis Perilaku Konsumen, PBFE Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Hariandja, Marihot Tua Efendi, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia: Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkatan Produktivitas Pegawai, Cetakan ketiga, PT Grasindo, Jakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Kewiraswastaan
https://www.maxmanroe.com/vid/marketing/pengertian-manajemen-pemasaran.html
https://www.maxmanroe.com/vid/manajemen/pengertian-manajemen-produksi.html
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/06/pengertian-manajemen-produksi-fungsi-tahapan-faktor-pendukung-lengkap.html
KERIPIK TEMPE CAHYA RASA
(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Kewirausahaan)
Dosen Pengampu : Dr., Yoyo Sunaryo, N., Ir., M.P.
Disusun oleh:
KELOMPOK 6
Nama Anggota :
Erika Agustina
Nadilla Dwi Agustin
Ratih Meliani
Tania Meilani
Wika Widyantika
Akuntansi 2A
PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KUNINGAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan Laporan Observasi UMKM Keripik Tempe Cahya Rasa. Laporan ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kewirausahaan serta mengetahui lebih lanjut tentang sejarah, pengorbanan, dan manajemen usaha yang dilakukan pada suatu UMKM.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dengan kerendahan hati, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya yang tertarik dengan dunia usaha.
Kuningan, 21 April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. PROFIL USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH 3
B. SEJARAH UMKM KERIPIK TEMPE CAHYA RASA 3
C. KAJIAN PUSTAKA 4
1. Usaha Kecil 4
2. Usaha Mikro 5
3. Usaha Menengah 7
4. Manajemen Untuk Mengembangkan Suatu Usaha 9
D. USAHA MIKRO KERIPIK TEMPE CAHYA RASA 16
1. Manajemen Produksi 16
2. Manajemen Pemasaran 18
3. Manajemen Sumber Daya Manusia 20
4. Manajemen Keuangan 21
BAB II PENUTUP 22
A. Kesimpulan 22
B. Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24
LAMPIRAN 25
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kewirausahaan (bahasa Inggris: entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Usaha seharusnya dirintis dari usaha kecil yang lama-lama akan menjadi usaha besar. Dalam pengembangan kewirausahaan memang sangat memerlukan ketelatenan, kesabaran, serta usaha yang keras demi tercapainya kesuksesan.
Usaha mikro kecil menengah itulah salah satu contoh usaha yang mungkin sekarang ini banyak kita temukan. Mereka menjalankan usahanya dengan modal yang seminimal mungkin dan dapat hasil yang lumayan.
Salah satu contoh usaha mikro adalah usaha keripik tempe Cahya Rasa yang didirikan oleh Bapak Dedi, itu dapat di kategorikan sebagai usaha kecil menengah. Beliau telah mengelola modal untuk usaha tersebut dengan sebaik mungkin. Pendapatan yang telah didapatkannya selama ini sudah cukup lumayan.
Meman sekarang ini kewirausaan sangatlah penting dan juga dikategorikan sebagai kebutuhan. Usaha yang maju akan menghasilkan keuntungan yang lebih banyak. Selain itu juga dapat memberi peluang yang luas bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan.
Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah serta profil usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa ?
Apa metode pemasaran yang digunakan oleh usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa?
Bagaimana cara mengembangkan usaha mikro keripik tempe Cahya Rasa tersebut?
Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana sejarah serta profil usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa
Untuk mengetahui dan memahami metode pemasaran produk yang digunakan oleh usaha mikro Keripik Tempe Cahya Rasa
Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan usaha mikro keripik tempe Cahaya Rasa
BAB II
PEMBAHASAN
PROFIL USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
Nama UMKM : Keripik Tempe Cahya Rasa
Pemilik UMKM : Dedi
Alamat : Dusun Puhun RT. 011 / RW. 003, Desa Pagundan Kec. Lebakwangi, Kab. Kuningan 45574
Nomor Telepon : 0895-3748-98958
Bidang Usaha : Makanan
Tahun Berdiri : 1998
SEJARAH UMKM KERIPIK TEMPE CAHYA RASA
Sebelum mendirikan usaha keripik tempe, bapak Dedi bekerja sebagai buruh dipabrik keripik tempe di Bandung. Karena bosan menjadi buruh, jauh dari keluarga, Bapak Dedi memutuskan untuk berhenti bekerja di Bandung lalu terpikirkan ide untuk membuka usaha keripik tempe kecil-kecilan di kota asalnya yaitu Kuningan Jawa Barat. Atas pengalaman serta ilmu yang didapatkan mengenai usaha dibidang keripik tempe Bapak Dedi memberenaikan diri untuk mendirikan usaha keripik tempe pada tahun 1998 yang dinamai Keripik Tempe Cahya Rasa.
Nama Cahya Rasa diambil dari nama putri bungsu dari Bapak Dedi yang bernama Restu Cahya. Usaha keripik tempe Cahya Rasa diproduksi oleh Bapak Dedi bersama istrinya Ibu Isah, lalu hasil produksi tersebut diperjualbelikan kepada konsumen di pasar menggunakan gerobak dorong dengan modal awal sebesar Rp. 200.000,-
Secara bertahap usaha keripik itu mulai berkembang, keripik tempe Cahya Rasa ini telah memperoleh ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga aman untuk dikonsumsi dan menambah daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk membeli. Karena semakin berkembangnya usaha keripik tempe ini, Bapak Dedi sudah tidak berjualan menggunakan gerobak lagi di Pasar Ciputat Ciawigebang, tetapi mulai menitipkan produknya ke pasar-pasar tradisional yang berada di daerah Darma, Cikijing, Talaga, Ciawigebang, Pabuaran, dan Ciledung.
Dari hasil usaha keripik tempe tersebut, Bapak Dedi mulai mempekerjakan seorang karyawan untuk membantu pengemasan produk, sedangkan proses produksi masih tetap oleh Bapak Dedi dibantu istri dan anaknya. Selain itu Bapak Dedi dapat membeli mobil yang digunakan sebagai alat transportasi untuk mengantarkan produknya.
KAJIAN PUSTAKA
Usaha Kecil
Pengertian Usaha Kecil
Usaha Kecil adalah usaha yang berskala kecil, memiliki modal kecil dan cakupan pasar yang kecil pula. Keterbatasan modal dan cakupan pasar merupakan hal yang lumrah karena dalam perjalanan untuk menjadi besar butuh proses dan waktu.
Ciri-ciri usaha kecil
Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah.
Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah.
Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha.
Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha.
Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal.
Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning.
Usaha Mikro
Pengertian Usaha Mikro
Usaha Mikro adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil dan bersifat tradisional dan informal dalam arti belum terdaftar, belum tercatat, dan belum berbadan hukum. Hasil penjualan tahunan bisnis tersebut paling banyak Rp 100.000.000,00 dan milik Warga Negara Indonesia.
Menurut keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003, Usaha Mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) per tahun.
Berdasarkan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menyebutkan: Usaha mikro Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Ciri-ciri Usaha Mikro
Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti;
Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat;
Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.
Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai
Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah;
Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank;
Tujuan Usaha Mikro
Sedangkan menurut UU No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pasal 3 disebutkan bahwa usaha mikro dan kecil bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.
Contoh Usaha Mikro
Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya;
Industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan rotan, industri pandai besi pembuat alat-alat;
Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar dll;
Peternakan ayam, itik dan perikanan;
Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).
Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
Usaha Menengah
Pengertian Usaha Menengah
Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan (Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Bab 1 pasal 1). Dikatakan sebagai usaha menengah jika keuntungan bersih badan usaha itu tidak lebih dari Rp. 500.000.000,- per bulan. Usaha menengah juga berfungsi sebagai sarana untuk memeratakan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Kewirausahaan dalam menjalankan industri menengah adalah modalnya cukup besar, peralatan dan sarana tempat sudah bagus dan pembagian kerja sudah jelas, tenaga kerja/karyawan berjumlah 20 sampai 100 orang. UKM (Usaha Kecil Menengah) adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Jumlah UKM hingga 2011 mencapai sekitar 52 juta. UKM di Indonesia sangat penting bagi ekonomi karena menyumbang 60% dari PDB dan menampung 97% tenaga kerja.
Ciri-ciri Usaha Menengah
Berikut ini adalah beberapa ciri usaha menengah yang membedakannya dengan jenis usaha lain:
Memiliki manajemen usaha yang lebih baik dan lebih modern. Adanya pembagian tugas yang jelas antara bagian produksi, bagian pemasaran, bagian keuangan, dsb.
Pernah melakukan administrasi keuangan dengan cara menerapkan sistem akuntansi secara teratur. Hal ini akan mempermudah pihak tertentu dalam melakukan pemeriksaan dan juga penilaian.
Memberikan jaminan sosial kepada para pekerja, seperti jamsostek, jaminan kesehatan, dsb.
Telah mengurus segala persyaratan legalitas, seperti izin tetangga, izin usaha, NPWP, izin tempat, dan lain sebagainya.
Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500 juta sampai dengan paling banyak Rp 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2,5 miliar sampai dengan paling banyak Rp 50 miliar
Contoh Usaha Menengah
Usaha perkebunan, perternakan, pertanian, kehutanan skala menengah.
Usaha Perdagangan (Grosir) Termasuk Expor dan Impor
Usaha Dealer Mobil
Usaha Jasa Membuat jasa Alat Transportasi
Usaha Industri Makanan Dan Minuman
Usaha perdagangan skala besar yang melibatkan aktivitas atau kegiatan ekspor-impor.
Usaha ekspedisi muatan kapal laut, garmen, serta juga jasa transportasi seperti bus dengan jalur antar propinsi.
Usaha industri makanan, minuman, elektronik, serta juga logam.
Usaha pertambangan.
Manajemen Untuk Mengembangkan Suatu Usaha
Manajemen Produksi
Pengertian Manajemen Produksi
Pengertian Manajemen Produksi adalah sebagai penataan proses pengubahan bahan mentah menjadi produk atau jasa yang diinginkan sehingga memiliki nilai jual.
Produksi yang diambil dari bahan mentah langsung kemudian diekstrak menjadi produk yang diinginkan. Misalnya ekstraksi minyak untuk dibuat menjadi berbagai macam produk.
Produk yang didapatkan dengan cara memodifikasi bahan baik secara kimiawi atau parameter mekanis tanpa mengubah atribut fisiknya. Misalnya dilakukan dengan memanaskan bahan baku di suhu yang tinggi.
Fungsi Manajemen Produksi
Seperti yang kita ketahui pada pengertian manajemen produksi, mereka tidak hanya melakukan proses produksi, tapi juga melakukan berbagai hal lainnya. Menurut Sofian Assauri (2004: 22), ada empat fungsi terpenting pada manajemen produksi, diantaranya:
Perencanaan
Ini adalah keterkaitan dan pengorganisasian kegiatan produksi yang akan dilakukan dengan dasar waktu atau periode tertentu.
Proses Pengolahan
Ini adalah metode atau teknik yang digunakan untuk mengolah masukan (input).
Jasa Penunjang
Sarana yang diperlukan untuk penetapan dan metode yang digunakan agar proses pengolahan bisa dilakukan secara efektif dan efisien.
Pengendalian/ Pengawasan
Ini merupakan fungsi untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perencanaan, dengan begitu maksud dan tujuan dalam menggunakan dan pengolahan masukan (input) dapat dilaksanakan.
Ruang Lingkup Manajemen Produksi
Dilihat dari cara mengambil kebijakan utama dan keputusan, ada tiga kategori di dalam ruang lingkup manajemen produksi:
Keputusan/ Kebijakan Mengenai Desain
Kebijakan/ Keputusan Mengenai Transformasi
Keputusan/ Kebijakan Mengenai Perbaikan
Aspek-Aspek Manajemen Produksi
Untuk mendapatkan hasil produksi yang sesuai harapan, perlu dilakukan beberapa tahapan penting dalam proses produksi. Berikut ini tahapan dan aspek di dalam Manajemen Produksi:
Perencanaan Produksi
Pengendalian Produksi
Pengawasan Produksi
Faktor Pendukung Manajemen Produksi
Manajemen produksi yang telah berjalan dengan baik disuatu perusahaan dipengaruhi dua faktor yaitu:
Faktor pertama yaitu division of labour atau faktor pembagian tugas yang tepat.
Faktor kedua adalah dilakukannya revolusi industri.
Manajemen Pemasaran
Pengertian Manajemen Pemasaran
Menurut Dharmmesta dan Handoko, pengertian manajemen pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaannya, berkembang dan mendapatkan keuntungan dari kegiatan pertukaran. Jauh sebelum barang diproduksi, proses pemasaran tersebut sudah dilakukan dan tidak berakhir pada penjualan.
Konsep Manajemen Pemasaran
Ada 3 elemen penting yang termasuk konsep manajemen pemasaran yaitu:
Orientasi Pada Konsumen (Market Oriented)
Konsep pemasaran yang paling baik adalah dengan menjadikan konsumen sebagai prioritas utama.
Perencanaan Kegiatan Pemasaran
Pengaturan secara dinamis sebagai bentuk penyusunan berbagai kegiatan pemasaran secara menyeluruh.
Kepuasan Konsumen
Unsur paling penting di dalam pemasaran adalah kepuasan konsumen. Kepuasan konsumen ini tidak hanya diukur dari kualitas produk saja, tapi juga dari bagaimana strategi pemasaran yang dilakukan.
Fungsi Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran memiliki beberapa fungsi berikut:
Fungsi Pertukaran
Di sini fungsi pertukaran pada manajemen pemasaran terbagi menjadi dua fungsi utama, yakni fungsi pembelian dan fungsi penjualan.
Fungsi Fisis
Fungsi fisis manajemen pemasaran terfokus pada kegunaan waktu, lokasi dan bentuk yang perlu dipertimbangkan pada suatu produk ketika suatu produk akan diangkut, diproses dan disimpan hingga sampai ketangan konsumen.
Fungsi Penyediaan Sarana
Manajemen pemasaran juga memiliki fungsi sebagai penyediaan sarana karena akan berkaitan dengan segala kegiatan yang mampu melancarkan operasional pemasaran.
Tujuan Manajemen Pemasaran
Secara umum ada 6 Tujuan Manajemen Pemasaran, diantaranya adalah:
Membangun Permintaan
Membangun Kepuasan Konsumen
Mendapatkan Market Share
Mendapatkan Keuntungan
Mendapatkan Pencitraan Sesuai Harapan
Menjaga Kelangsungan Usaha
Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengertian Manajemen Pemasaran
Manajemen sumber daya manusia, disingkat MSDM, adalah suatu ilmu atau cara bagaimana mengatur hubungan dan peranan sumber daya (tenaga kerja) yang dimiliki oleh individu secara efisien dan efektif serta dapat digunakan secara maksimal sehingga tercapai tujuan (goal) bersama perusahaan, karyawan dan masyarakat menjadi maksimal.
Konsep Dasar Manajemen Sdm
Manajemen Sumber Daya Manusia atau biasa disingkat dengan MSDM memiliki konsep dasar yaitu menempatkan semua karyawan sebagai manusia. Artinya, karyawan bukan hanya sebagai mesin pendukung saja atau bukan yang penting perusahaan bayar kamun, maka kamu harus nurut ama perusahaan.
Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Secara garis besar fungsi MSDM dibagi menjadi 2 yaitu :
Fungsi Manajerial
Planning atau Perencanaan
Organizing atau Pengorganisasian
Directing atau Pengarahan
Controlling atau Pengendalian
Fungsi Operasional
Pengadaan Tenaga Kerja / Karyawan
Pengembangan
Pengintegrasian
Pemeliharaan
Kompensasi
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Sasaran Manajemen SDM
Sasaran Perusahaan Atau Korporasi
Departemen SDM sengaja dibuat untuk membantu para pimpinan / manajer dalam mencapai tujuan perusahaan, seperti : perencanaan Sumber Daya Manusia, pelatihan, selesi, pengembangan, naik/turun jabatan, penilaian, dll.
Sasaran Fungsional
Setingkat lebih tinggi dari sasaran yang pertama, sasaran fungsional ini untuk mempertahankan kontribusi dari HRD pada level yang lebih cocok bagi kebutuhan perusahaan seperti pengangkatan pangkat, penempatan serta penilaian pegawai.
Sasaran Sosial
Sasaran sosial ini antara lain hubungan manajamen perusahaan dengan syarikat kerja, pemenuhan jika ada tuntutan hukum, keuntungan perusahaan, CSR, hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar, dll.
Sasaran Pribadi Karyawan
Selain itu, depertemen ini juga bisa membantu para karyawan untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi mereka, apabila memang dirasa karyawan tersebut sudah bekerja dengan baik di perusahaan. Misalkan mempermudah / membantu karyawan yang ingin melakukan kredit rumah/kendaraan.
Manajemen Keuangan
Pengertian Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah suatu kegiatan yang terdiri dari perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencaharian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh suatu organisasi atau perusahaan. Sedangkan secara sederhana, Pengertian Manajemen Keuangan adalah suatu proses dalam aktivitas keuangan perusahaan, dimulai dari cara memperoleh dana dan mempergunakannya. Yang mana penggunaannya harus tepat sasaran, efisien, dan efektif agar tujuan keuangan perusahaan dapat tercapai sesuai rencana.
Fungsi Manajemen Keuangan
Berikut beberapa fungsi manajemen keuangan yaitu sebagai berikut..
Perencanaan Keuangan, membuat rencana pemasukan dan pengeluaran serta mengenai kegiatan-kegiatan yang lainnya dalam periode tertentu.
Penganggaran Keuangan, membuat detail pengeluaran dan pemasukan
Pengelolaan Keuangan, penggunaan dana perusahaan secara maksimal dengan berbagai cara
Pencaharian Keuangan, mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang digunakan untuk operasional kegiatan perusahaan.
Penyimpanan Keuangan, yakni dengan mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dan mengamankan dana tersebut.
Pengendalian Keuangan, yakni dengan melakukan evaluasi dan perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan yang berlaku di perusahaan.
Pemeriksaan Keuangan, dengan melakukan audit internal mengenai keuangan perusahaan yang ada untuk tidak adanya penyimpangan.
Pelaporan Keuangan, adalah dengan menyediakan informasi tentang kondsi keuangan perusahaan dan tentunya sebagai bahan evaluasi.
Tujuan Manajemen Keuangan
Tujuan dari manajemen keuangan adalah untuk memaksimalkan akan nilai perusahaan. Sehingga jika suatu saat perusahaan tersebut dijual, maka harganya dapat ditetapkan dengan harga yang setinggi mungkin. Seorang manajer harus menekan arus peredaran uang agar terhindar dari tindakan yang tidak diinginkan.
Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan tidak hanya pada pencatatan akuntansi saja. Manajemen keuangan merupakan bvagian yang sangat penting dan tidak dapat dianggap sepele. Pada prakteknya manajemen keuangan meruakan aktivitas dan hadir untuk menyehatkan keuangan perusahaan atau organisasi. Maka dari itu membuat hal tersebut, mari kita melihat Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan sebagai berikut :
Consistency (Konsistensi)
Accountability (Akuntabilitas)
Transparancy (Transparansi
Viability (Kelangsungan Hidup)
Integrity (Integritas)
Stewardship (Pengelolaan)
Accounting Standards (Standar Akuntansi)
USAHA MIKRO KERIPIK TEMPE CAHYA RASA
Manajemen Produksi
Produk
Deskripsi Produk
Produk Keripik Tempe Cahya Rasa adalah keripik tempe yang renyah dan gurih yang terbuat dari tempe serta bumbu rempah-rempah lainnya. Keripik tempe Cahya Rasa ini dikemas dalam 3 ukuran yaitu : ukuran besar @ Rp. 46.000,- ukuran sedang @ Rp. 25.000,- dan ukuran kecil @ Rp. 2.000.-. Keripik tempe Cahya Rasa ini sangat aman untuk dikonsumsi karena telah mendapat izin dari BPOM.
Nilai/Manfaat Produk
Keripik tempe Cahya Rasa adalah makanan ringan yang dapat dijadikan sebagai camilan atau pun penambah lauk makanan dengan rasanya yang enak, gurih dan renyah.
Proses Produksi
Proses produksi di Keripik tempe Cahya Rasa sangat mementingkan kualitas, mulai dari pemilihan tempe yang bagus, racikan berbagai rempah-rempah, sampai bumbu-bumbu rahasia yang dibuat untuk menghasilkan cita rasa yang khas serta proses produksi yang memerhatikan kebersihan.
Kapasitas Produksi
Dalam satu hari kapasitas produksi di Keripik Tempe Cahya Rasa kurang lebih 700 bungkus yang terdiri dari 200 bungkus ukuran besar, 150 bungkus ukuran sedang, dan 350 bungkus ukuran kecil.
Bahan Baku dan Bahan Pembantu
Bahan baku untuk pembuatan keripik tempe Cahya Rasa per hari berupa tempe kurang lebih seharga Rp. 150.000,- tepung Rp. 75.000, bumbu-bumbu kurang lebih seharga Rp. 35.000,-, gas Rp. 20.000,-, dan minyak Rp. 52.000,-.
Tenaga Produksi (Tenaga Kerja Langsung)
Bapak Dedi mempekerjakan satu orang untuk membantu proses pembungkusan yang diberi upah per harinya Rp. 30.000,-
Kendala Dalam Proses Produksi
Kendala dalam proses produksi di Keripik tempe Cahya Rasa ini adalah apabila harga bahan baku yaitu tempe mengalami kenaikan. Ataupun harga minyak, gas, serta bahan pembantu lainnya mengalami kenaikan pula. Sehingga akan memberikan kesulitan kepada pengusaha Keripik tempe Cahya Rasa dalam menentukan keputusan apakah harus menaikan harga ataukah mengurangi kuantitas produk dalam tiap kemasan.
Kelemahan Produk Keripik Tempe Cahya Rasa
Keripik tempe Cahya Rasa ini dari dahulu sampai sekarang belum ada inovasi untuk membuat rasa yang unik dan berbeda, karena keripik tempe Cahya Rasa ini hanya menjual produk original saja.
Manajemen Pemasaran
Gambaran Umum Pasar (STP)
Segmen Pasar
Tempe merupakan makanan yang dikonsumsi oleh seluruh masyarakat di Indonesia khusunya di Kuningan. Begitupun Keripik Tempe Cahya Rasa ini yang dapat dikonsumsi oleh semua kalangan dan telah mendapat izin BPOM sehingga aman untuk dikonsumsi, dengan harga yang sangat terjangkau produk ini mempunyai segmen pasar mulai dari kaum menegah ke bawah maupun menengah ke atas.
Target (Targeting)
Keripik Tempe Cahya Rasa ditargetkan ke pasar pasar tradisional yang ada di Kuningan, Cirebon, dan Majalengka.
Posisi (Positioning)
Keunggulan dari produk Keripik Tempe Cahya Rasa ini adalah rasanya yang enak dan gurih serta harga produk yang sangat terjangkau mulai dari harga Rp. 2.000,-
Strategi Pemasaran Usaha dan Pesaing
Strategi Pemasaran Perusahaan dilakukan berdasarkan analisa 7P dengan alat analisis SWOT menurut Kottler yang terdiri atas:
Product (Produk)
Keripik Tempe Cahya Rasa adalah keripik tempe yang dibumbui dengan bawang putih, ketumbar serta bumbu lainnya yang digoreng dengan dilumuri lapisan tepung dengan cita rasa gurih dan renyah.
Price (Harga)
Harga Keripik Tempe Cahya Rasa cukup terjangkau dan sangat pas untuk semua kalangan. Untuk harga per 1 kg @ Rp. 46.000,- harga per 1,5 kg @ Rp. 25.000,- serta untuk kemasan keci 1 Pcs @ Rp. 2.000,-
Promotion (Promosi)
Strategi mengenai bagaimana produk Keripik Tempe Cahya Rasa dapat dikenal oleh konsumen yaitu melalui penjualan pribadi (personal selling) serta menitipkan produk ke pasar-pasar tradisional.
Place (Tempat)
Karena sistem penjualan dengan cara dititipkan ke pedagang-pedagang yang ada di pasar tradisional, serta konsumen yang dapat langsung membeli ke rumah yang dijadikan tempat produksi maka tempat untuk berjualan hanya di rumah dan pasar tradisional saja.
People (Orang)
Untuk meningkatkan produk yang dijual, Keripik Tempe Cahya Rasa mempekerjakan satu orang pekerja untuk membantu pengemasan.
Process (Proses)
Proses produksi dilakukan dirumah pribadi Bapak Dedi, sehingga konsumen yang membeli dipasar tidak dapat melihat secara langsung proses produksi.
Physical Evidence (Bukti Fisik)
Penampilan fisik dari produk menggunakan label Cahya Rasa untuk mempermudah konsumen untuk mengenal produk Keripik Tempe Cahya Rasa ini. Dikemas dengan plastik bening dan dibuat higienis.
Manajemen Sumber Daya Manusia
Tenaga kerja yang dibutuhkan oleh UMKM Keripik tempe Cahya Rasa adalah orang yang tekun dan sabar dalam bekerja. Tenaga kerja yang membantu memproses pengemasan produk dengan upah per harinya adalah Rp 30.000,-.
Sedangkan untuk proses produksi dilakukan oleh pemilik usaha yaitu Bapak Dendi, beserta Istri. Sedangkan untuk proses distribusi produk ke pasar-pasar tradisional yang berada di Darma, Cikijing, Talaga, Ciawigebang, Pabuaran, dan Ciledung dilakukan oleh putranya.
Manajemen Keuangan
Sumber dana awal usaha Keripik tempe Cahya Rasa pada tahun 1998 berasal Rp 100.000,- modal sendiri. Berawal dari modal yang sedikit karena manajemen keuangan yang dilakukan baik, maka dapat mengembangkan usaha sampai berkembang tidak hanya di pasar Ciputat-Ciawigebang tetapi sampai keluar Kabupaten Kuningan.
Modal perhari untuk pembuatan keripik tempe Cahya Rasa per hari kurang lebih Rp. 332.000,- sedangkan omzet penjualan ketika ramai dapat menjual sekitar 500 sampai 1.000 bungkus Keripik Tempe Cahya Rasa dengan berbagai ukuran sedangkan ketika penjualan sepi hanya menjual sekitar 200 bungkus saja.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Salah satu contoh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah usaha Keripik Tempe Cahya Rasa yang didirikan oleh Bapak Dedi pada tahun 1998. Lokasi produksi Keripik Tempe Cahya Rasa ini berada di Dusun Puhun RT. 11/RW. 03 Desa Pagundan, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Awal ide untuk mendirikan usaha Keripik Tempe Cahya Rasa ini karena Bapak Dedi bosan menjadi pegawai disalah satu pabrik keripik tempe di Bandung, setelah mendapat banyak pengalaman lalu memilih keluar dari pekerjaannya dan mendirikan usaha sendiri.
Produk yang dijual oleh UMKM Keripik Tempe Cahya Rasa tidak hanya di pasar tradisional yang ada di Kuningan saja, tetapi sudah ke daerah Cikijing, Talaga, Pabuaran, dan Ciledung. Keunggulan produk Keripik Tempe Cahya Rasa ini adalah mempunyai izin dari BPOM serta terkenal dengan rasanya yang enak, gurih, dan renyah. Produk ini dapat dibeli oleh semua kalangan dengan rasa yang enak dan harga yang terjangkau baik oleh kalangan menengah atas, maupun kalangan menengah kebawah.
Berawal dari modal yang sedikit karena manajemen keuangan atau pengelolaan modal yang baik oleh Bapak Dedi, maka dapat mengembangkan usaha sampai berkembang tidak hanya di pasar Ciputat-Ciawigebang tetapi sampai keluar Kabupaten Kuningan. Sehingga Pendapatan yang telah didapatkan sampai saat ini cukup lumayan dan juga dapat memberi peluang yang luas bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan.
Saran
Keripik Tempe Cahya Rasa sudah enak dengan rasa gurih dan renyahnya dengan rasa yang original. Namun alangkah lebih baik dan menarik apabila ditambahkan dengan beberapa inovasi rasa lain, seperti rasa pedas, pedas manis, balado, dan lain-lain.
Karena penjualan hanya dirumah produksi dan diantar ke pasar-pasar tradisional, maka konsumen yang akan membeli produk harus pergi ke rumah produksi ataupun ke pasar terlebih dahulu. Karena pemasaran yang dilakukan masih penjualan secara langsung. Mungkin akan lebih baik apabila UMKM Keripik Tempe Cahya Rasa dapat memasarkan produknya di media sosial atau dijual secara online untuk memperluas pangsa pasar dan menarik konsumen lebih banyak lagi demi meningkatkan produk dan keuntungan yang didapatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Dharmmesta, B.S. & Handoko, H.(1982), Manajemen Pemasaran: Analisis Perilaku Konsumen, PBFE Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Hariandja, Marihot Tua Efendi, (2005), Manajemen Sumber Daya Manusia: Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan Peningkatan Produktivitas Pegawai, Cetakan ketiga, PT Grasindo, Jakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Kewiraswastaan
https://www.maxmanroe.com/vid/marketing/pengertian-manajemen-pemasaran.html
https://www.maxmanroe.com/vid/manajemen/pengertian-manajemen-produksi.html
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2017/06/pengertian-manajemen-produksi-fungsi-tahapan-faktor-pendukung-lengkap.html
Komentar
Posting Komentar